Tentang Rumah Kebangsaan Pancasila




Tentang Kami
Rumah Kebangsaan Pancasila adalah organisasi terbuka yang hadir untuk turut serta bergotong-royong dalam nation building yang bertumpu pada nation character building. Bergerak bersama masyarakat untuk memastikan termanifesikannya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Profile Singkat RKP
Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa
Sesuai dengan namanya, Rumah Kebangsaan Pancasila adalah sebuah perkumpulan yang berfokus pada upaya turut serta mengejawantahkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan kebangsaan Indonesia sebagai bagian penting dari Nation Building.
Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah format utuh yang menjadi landasan pikir, rasa, kata dan gerak Rumah Kebangsaan Pancasila dalam upaya sungguh-sungguhnya membantu negara mensukseskan nation building yang berorientasi pada nation character building demi terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kuat dan bermartabat.
Rumah Kebangsaan Pancasila senantiasa akan setia membantu pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk mewujudkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sesuai dengan apa yang diamanatkan dalam Undang-undang Dasar 1945. Mewujudkan negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, terwujudnya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur serta terwujudnya persaudaraan bangsa-bangsa di atas dasar KEMERDEKAAN, PERDAMAIAN ABADI dan KEADILAN SOSIAL yang menjadi cita-cita dan perjuangannya bangsa Indonesia sejak mula- mula itu dengan sendirinya merupakan bagian yang satu dengan cita-cita dan perjuangan Rumah Kebangsaan Pancasila.
SEJARAH SINGKAT
Latar Belakang Berdirinya Rumah Kebangsaan Pancasila
Keprihatinan yang melahirkannya
Rumah Kebangsaan Pancasila tidak lahir dari sebuah rapat. Ia lahir dari sebuah keprihatinan.
Pendiri kami, Bapak Irwan Hasanuddin, mengalami langsung masa-masa awal reformasi. Masa itu adalah masa yang penuh harapan. Bangsa ini sedang membuka diri, sedang memperbaiki banyak hal yang selama puluhan tahun tidak boleh disentuh. Ada rasa lega yang menyebar ke mana-mana.
Tetapi di tengah arus perubahan itu, beliau melihat sesuatu yang mengganggu.
Generasi muda kita justru semakin jauh dari nilai-nilai luhur bangsanya sendiri. Semakin fasih berbicara tentang dunia, semakin asing terhadap negerinya. Semakin banyak yang diketahui tentang tempat-tempat jauh, semakin sedikit yang diketahui tentang tanah tempat kakinya berpijak.
Kita membuka jendela lebar-lebar — dan itu memang perlu, bahkan sudah terlambat. Tetapi kita lupa memperkuat fondasinya.
Sebuah penanda
Kemudian datang sebuah penanda.
Majelis Permusyawaratan Rakyat menggulirkan program sosialisasi kembali Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika kepada seluruh rakyat.
Bagi pendiri kami, itu bukan sekadar sebuah program. Itu adalah gejala.
Sebab bila sebuah negara sampai merasa perlu memperkenalkan kembali dasar-dasar kebangsaan kepada rakyatnya sendiri — dasar-dasar yang seharusnya sudah menjadi napas sehari-hari — berarti ada sesuatu yang benar-benar sedang hilang.
Keyakinan yang tumbuh dari kesadaran itu
Membangun karakter bangsa adalah pekerjaan bersama: negara tidak dapat mengerjakannya sendirian, dan rakyat tidak boleh hanya menunggu.
Negara memiliki jangkauan yang tidak dimiliki siapa pun — perangkat, kewenangan, dan kemampuan menjangkau seluruh pelosok negeri. Tanpa negara, pekerjaan sebesar ini mustahil dilaksanakan secara merata.
Tetapi negara juga bekerja dalam irama yang ditentukan oleh waktu. Program berganti mengikuti pergantian pemerintahan. Anggaran naik dan turun. Prioritas bergeser setiap lima tahun.
Sementara pembangunan karakter sebuah bangsa memerlukan waktu berpuluh tahun, dan tidak boleh terputus di tengah jalan.
Di sinilah rakyat melengkapi. Yang dibutuhkan adalah gerakan rakyat yang berjalan berdampingan dengan negara: orang-orang biasa yang bergerak dengan sukarela, konsisten, dan mendalam. Yang tetap berjalan ketika anggaran habis. Yang menjaga arahnya tetap sama ketika pemerintahan berganti. Yang mengerjakannya karena memang ingin, bukan karena ditugaskan.
Negara menyelenggarakan; rakyat menghidupi. Keduanya diperlukan, dan tidak satu pun dapat menggantikan yang lain.
Tiga tonggak
Tahun 2012 — dimulainya program
Di tahun itulah program-program pendidikan kebangsaan berbasis sejarah mulai dijalankan. Belum ada nama resmi. Belum ada badan hukum. Belum ada kantor, belum ada kop surat, belum ada apa pun yang biasanya dianggap penting oleh sebuah organisasi.
Yang ada hanya sekelompok orang dan sebuah keyakinan.
Dari komunitas ke komunitas. Dari sekolah ke sekolah. Kecil-kecil, sering kali hanya belasan peserta, dan tidak pernah berhenti.
22 Maret 2018 — berdirinya organisasi
Pada tanggal itu, Rumah Kebangsaan Pancasila resmi berdiri sebagai organisasi berbadan hukum.
Kami menyebutkannya bukan untuk berbangga, melainkan karena Saudara berhak mengetahui bahwa yang sedang Saudara hadapi adalah perkumpulan yang sah, tercatat, dan dapat dimintai pertanggungjawaban — bukan sekumpulan orang yang gemar berkumpul dan berbicara besar.
Rumah Kebangsaan Pancasila adalah organisasi terbuka yang hadir untuk turut serta bergotong-royong dalam nation building yang bertumpu pada nation character building. Bergerak bersama masyarakat untuk memastikan termanifesikannya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Terwujudnya tata hidup yang ber-Bhinneka Tunggal Ika, yang berdasar kepada Pancasila, serta terselanggaranya Undang-Undang Dasar 1945 dalam tata Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi sebuah format utuh yang mendasari gerak langkah Rumah Kebangsaan Pancasila dalam upaya mensukseskan nation building yang bertumpu pada nation character building itu.
Visi
Rumah Kebangsaan Pancasila
Menjadi rumah pembangunan karakter bangsa, tempat anak-anak bangsa Indonesia mengenal jati dirinya dan menemukan arahnya, dengan Pancasila sebagai dasarnya.
Bacalah sekali lagi, perlahan. Visi ini sesungguhnya adalah nama organisasi ini yang diuraimenjadi kalimat.
"Menjadi rumah" — kata pertama nama kita. Bukan lembaga yang melayani peserta, melainkan rumah yang menghimpun penghuni.
"Pembangunan karakter bangsa" — inilah pekerjaannya. Satu-satunya unsur dalam visi iniyang bukan bagian dari nama, dan ia hadir untuk menjawab: rumah macam apa ini. Istilah inilahyang dipakai Bung Karno — nation and character building — dan yang menjadi seluruh alasankeberadaan rumah ini.
"Mengenal jati dirinya dan menemukan arahnya" — inilah dua pertanyaan yang menjadialasan keberadaan rumah ini: siapa kita, dan mau ke mana kita. Itulah kata Kebangsaan.
"Dengan Pancasila sebagai dasarnya" — kata ketiga, dan kedudukannya sebagaimana telahdiuraikan pada Bagian Satu.
Ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan, dan ia disengaja.
Kalimat itu berbunyi "anak-anak bangsa mengenal jati dirinya" — dan frasa itu dapat dibacadua arah. Jati diri bangsanya, atau jati diri dirinya sendiri.
Keduanya benar, dan keduanya memang dimaksudkan.
Sebab inilah yang diyakini rumah ini: seseorang mengenal dirinya melalui bangsanya, danmengenal bangsanya melalui dirinya. Bangsa tidak dibangun dari atas, melainkan daridalam diri orang-orang yang menyusunnya.
Kami Adalah
Misi
Rumah Kebangsaan Pancasila
Enam misi
Keenam misi rumah ini dapat dibaca dalam tiga kelompok: apa yang disebarkan, bagaimana menyebarkannya, dan dengan siapa.
KELOMPOK PERTAMA — Apa yang disebarkan
Misi pertama
Menyebarkan ajaran kemerdekaan kebangsaan Indonesia seluas-luasnya — terutama kepada generasi muda — dengan berpijak pada akar sejarah kejadian bangsa ini sendiri.
Perhatikan bagian akhirnya: akar sejarahnya sendiri. Bukan teori kebangsaan yang dipinjam dari negeri lain, betapapun rapinya teori itu disusun. Bangsa ini punya kisahnya sendiri, dan dari kisah itulah jati dirinya harus dibaca.
Dan perhatikan pula bagian tengahnya: terutama kepada generasi muda. Sebab dari keprihatinan atas generasi mudalah rumah ini lahir.
Misi kedua
Menjembatani ajaran kebangsaan dengan ajaran agama, sehingga keduanya saling menguatkan dan tidak dipertentangkan.
Kami meyakini bahwa kebangsaan dan agama, bila ditelusuri sampai ke dasarnya, bertemu pada nilai yang sama: kasih sayang, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama manusia.
Yang dikerjakan adalah menjembatani — bukan mencampuradukkan, dan bukan pula memilih salah satu.
Misi ketiga
Menghidupkan kembali pemikiran Bung Karno sebagai sumber rujukan dalam memahami jati diri dan arah perjalanan bangsa.
Misi ini mudah disalahpahami, maka perlu dinyatakan dengan terus terang.
Rumah ini tidak mengajarkan pemujaan kepada siapa pun. Yang dikerjakan adalah pembacaan — membaca kembali gagasan-gagasan beliau dari naskah aslinya, bukan dari ringkasan, dan sama sekali bukan dari kutipan yang beredar di media sosial, yang sebagian besar tidak dapat dipertanggungjawabkan keasliannya.
Perhatikan pula kata kerjanya: memahami. Rumah ini adalah rumah pendidikan, dan pekerjaan rumah pendidikan adalah membantu orang memahami — bukan menentukan bagi orang lain apa yang harus mereka putuskan.
Pada jenjang-jenjang berikutnya, kader membaca naskah asli itu sendiri — lengkap dengan konteks zamannya, lengkap pula dengan perdebatan dan kritik yang menyertainya. Sebab kader yang meyakini sesuatu karena memahaminya jauh lebih tahan uji daripada kader yang meyakini karena diberi tahu.
KELOMPOK KEDUA — Bagaimana menyebarkannya
Misi keempat
Menciptakan media, sarana, dan wahana bagi pembangunan karakter bangsa, melalui pendidikan yang dialami — bukan sekadar diajarkan.
Enam program dan dua wahana yang telah diuraikan pada Bagian Tiga adalah wujud dari misi ini.
Dan bagian akhirnya — pendidikan yang dialami, bukan sekadar diajarkan — adalah inti dari seluruh cara kerja rumah ini. Peserta tidak diceramahi tentang sel penjara; peserta berdiri di dalamnya. Itulah sebabnya program-program ini tidak dapat digantikan oleh buku atau video.
Misi kelima
Membentuk kader-kader Pancasila yang berilmu, berbudi, dan berbakti, melalui pengkaderan berjenjang yang berkesinambungan.
Tiga kata di dalamnya — berilmu, berbudi, berbakti — adalah ukuran yang dipakai rumah ini untuk menilai dirinya sendiri, bukan untuk menilai orang lain.
Segala hal yang mulia bermula dari ilmu, sebab niat baik yang tidak berilmu sering justru merusak. Tetapi ilmu tanpa budi hanyalah kepandaian yang hampa. Dan keduanya belum selesai sebelum menjelma menjadi bakti — perbuatan nyata bagi bangsa dan sesama.
Ketiganya akan Saudara temui berulang-ulang pada setiap jenjang berikutnya.
KELOMPOK KETIGA — Dengan siapa
Misi keenam
Membangun sinergi dan kemitraan yang sehat dengan berbagai elemen masyarakat, organisasi, dan pemerintah — sebagai wujud gotong royong dalam membangun karakter bangsa.
Kembali kepada apa yang telah disampaikan pada Bagian Dua: membangun karakter bangsa adalah pekerjaan bersama. Negara menyelenggarakan; rakyat menghidupi.
Bagi Saudara, misi ini punya arti yang sangat praktis. Bila di sekolah, kantor, komunitas, atau lingkungan tempat Saudara berada terbuka kemungkinan untuk mengerjakan hal serupa — pintu rumah ini terbuka untuk bergandengan tangan.
Rumah ini tidak pernah merasa cukup sendirian, dan tidak pernah menganggap dirinya satu-satunya yang mengerjakan hal ini.


Di Rumah Kebangsaan Pancasila , kami teguh percaya bahwa membangun dan mengembangkan karakter pribadi berkualitas adalah suatu perjalanan yang memerlukan kebijaksanaan. Melalui pendekatan BER-ILMU, kami membentuk individu yang haus akan pengetahuan, BER-BUDI adalah jalan cerdas manusia yang bijaksana dan BER-BAKTI buat kami bukan hanya berjiwa tapi itulah sebaik- baiknya manusia yang bermanfaat.
Ber - Ilmu
Di RKP kami mempunyai budaya belajar yang tinggi. Belajar dan terus menerus menggali ilmu dengan sedalam-dalamnya adalah keharusan bagi kami. Ilmu adalah jalan untuk mengenal alam dan membangun keselarasan dengannya. Dan karena ilmu sejatinya adalah milik alam, maka ilmu yang benar haruslah alamiah adanya
Di RKP kami percaya bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain. Mendedikasikan diri untuk bangsa, negara dan kemanusiaan adalah jalan yang harus diambil untuk menemukan arti menjadi manusia. Masuk ke dalam jalan bakti itulah bentuk nyata dari mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dan di jalan itulah segala apa yang dicari manusia akan ditemukannya
Di RKP kami mengharuskan setiap orang bukan saja hanya untuk menjadi cerdas, tapi lebih penting lagi dari itu adalah berbudi luhur. Berbudi luhur itulah sebaik-baiknya buah dari berilmu. Mereka yang berbudi luhur adalah mereka yang berpikir dan bersikap selaras dengan kodrat penciptaan dirinya dan semesta alam
Ber - Budi
Ber - Bakti
Ikrar RKP
Kami putera - puteri Indonesia - rakyat Indonesia, bangsa Indonesia - berikrar, bahwa :
Kami mengikatkan diri dengan seteguh-teguhnya ikatan pada terbentuknya bangsa Indonesia pada sumpah pemuda 28 Oktober 1928, yang didorong oleh keinginan luhur untuk merdeka dari penjajahan, yaitu: bangsa Indonesia yang satu nusa, satu bangsa, satu bahasa / bhinneka tunggal ika, sebagai titik mula dari kejadian Indonesia. Oleh sebab itu kami menyatakan:
Pertama : Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia.
Kedua : Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.
Ketiga : Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatua, Bahasa Indonesia.
Kami menghormati dan menjunjung tinggi Pola Pikir Indonesia raya pada Lagu Kebangsaan Idonesia Raya sebagai suatu bentuk Wawasan Kebangsaan Indonesia mula-mula, arah dan cita-cita mula-mula daripada revolusi Indonesia, serta menghormati bendera merah putih sebagai bendera pemersatu, identitas dan simbol dari idea Indonesia raya itu sendiri.
Kami menghormati dan menjunjung tinggi perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia yang berlangsung selama 17 TAHUN sebelum proklamasi kemerdekaan yang telah menghantarkan kita ke depan pintu gerbang kemerdekaan, dalam rangka menuju kepada negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, & makmur. Serta menghormati sepenuhnya perjuangan-perjuangan kemerdekaan nasional sebelum itu.
Kami menghormati dan menjunjung tinggi proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 AGUSTUS 1945, bebasnya tanah air Indonesia bebasnya bangsa Indonesia dari ikatan Kolonial, bentuk terwujudnya Indonesia merdeka sebagai titik berangkat untuk penyusunan dan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kami memahami sepenuhnya bahwa Deklarasi kemerdekaan yang juga kita sebut Pembukaan UUD 1945 itu adalah isi yang sedalam-dalamnya daripada Proklamasi dan merupakan penjelasan tentang dari mana dan mau ke mana kita sebagai bangsa Indonesia.
Kami menghormati dan menjunjung tinggi pancasila sebagai dasar daripada Negara Kesatuan Republik Indonesia, dalam hal ini dasar penyusunan UUD 1945 Proklamasi, yang mengakomodir bangsa Indonesia yang satu nusa satu bangsa satu bahasa, yang menjunjung tinggi semboyan persatuan: Bhinneka tunggal ika.
Kami memahami sepenuhnya bahwa Pancasila sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran agama manapun ataupun kebenaran manapun, dan kami siap menjadikannya sebagai dasar pemersatu, dasar falsafah, serta moral-prilaku dalam berkehidupan berbangsa bernegara dan bermasyarakat di Negara Indonesia, bahkan di mana pun berada karena keuniversalannya. Oleh sebab itu maka kami Siap untuk melaksanakan Sila-sila Pancasila.
Kami menghormati dan menjunjung tinggi UUD 1945 Proklamasi sebagai rel revolusi untuk pembentukan, penataan, dan pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam rangka melaksanakan revolusi indonesia mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.
Kami menghormati dan menjunjung tinggi garuda pancasila sebagai lambang negara dan sebagai formatika pola susunan UUD 1945 Proklamasi yang sempurna-tetap, serta menghormati simbol-simbol lainnya yang menjelaskan pola susunan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia konseptual secara murni dan utuh.
Kami menghormati dan menjunjung tinggi empat konsesus yang menjadi empat pilar kemerdekaan bangsa Indonesia, berupa konsepsi-konsepsi yang kita yakini akan memerdekakan kehidupan berbangsa bernegara dan bermasyarakat daripada Bangsa Indonesia, yaitu: Pancasila, UUD 1945, NKRI dengan semboyan persatuan kita bhinneka tunggal ika.
Kami mendukung sepenuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia turut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial dan turut mewujudkan persaudaraan bangsa-bangsa yang tanpa eksploitasi manusia atas manusia, bangsa atas bangsa
Semoga Tuhan yang Maha Pengasih menyempurnakan kemerdekaan bangsa Indonesia dengan sesempurna sempurnanya kemerdekaan. segala puji baginya, Yang Maha Kuasa atas seluruh alam.
Merdekaa!!
STRUKTUR ORGANISASI


Program Kami




Sosialisasi Nasionalisme Indonesia (SNI)
Metode kegiatan yang mengandung nilai-nilai bela negara telah menjadi kesadaran setiap warga negara Indonesia, maka keselamatan bangsa dan negara terjaga, kemandirian dan kesejahteraan bangsa dapat terbangun, sehingga bangsa Indonesia mampu mewujudkan kehidupan yang sejajar atau sederajat dengan bangsa maju lainnya.


Manfaatkan momen ini! daftar SEKARANG untuk Wisata Sejarah Napak Tilas Kebangsaan On The Spot. Yang spesial menanti kamu!!


Sekretariat Pusat
Kantor DPP
Rumah Kebangsaan Pancasila
Media Sosial Kami
Copyright © 2026. Rumah Kebangsaan Pancasila
Organisasi
Partner Links
RKP
Contact Us
FAQ


